Ciloxskey’s Weblog

“sesuatu yang diawali dengan baik akan mengahasilkan sesuatu yang baik pula”

KEKEJAMAN ZAMAN MODERN

Umat Islam dan Tantangan Dunia Modern

26-May-2006

Oleh: KH. Dr. dr. Tarmizi Taher
Islam adalah agama universal dan menjadi rahmatanlil’alamin. Pergeseran peradaban dan perjalanan historis, tidaklah merubah esensial Islam. Hanya saja terkadang, umat Islam terbawa arus perubahan dan terpisah dari nilai-nilai Islam yang hakiki. Karena itu, umat Islam dituntut agar tetap istiqamah memegang syariat dan tangguh menghadapi tantangan dunia modern, agar tidak menjadi kurban modernitas.

Alquran adalah pegangan abadi di tengah kegalauan hidup akibat materialisme Barat. Materialisme itu nampaknya memang serba gemerlapan, penuh keindahan, serta menarik banyak remaja dan orang dewasa di seluruh dunia untuk mendekatinya. Padahal, peradaban baru yang berhembus kuat dari Barat yang diramu dalam kemilaunya globalisasi dan era informasi itu, telah banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif itu tampak pada terjadinya banyak kekacauan rumah tangga, penghalalan kekerasan dan kekejaman, merebaknya HIV dan AIDS, serta merajalelanya pil ekstasi dan minuman keras yang merupakan racun bagi semua manusia, khususnya anak-anak muda.

Modernitas adalah proses pertumbuhan dan perubahan yang sudah kita jalani selama hampir tiga dasawarsa. Khususnya di kota-kota besar, bangsa kita sedang tumbuh berkembang dan berubah dari masyarakat berpendapatan menengah menuju masyarakat industri. Perubahan yang terjadi terbukti tidak hanya bersifat fisik material, namun juga menyeret perubahan pada norma dan nilai. Sekarang ini, nilai-nilai dan norma itu banyak yang dikemas dalam slogan indah, seperti demokratisasi, keterbukaan, dan hak asasi manusia.

Kita harus berani menolak hal-hal yang membawa kebobrokan moral, hedonisme, kekerasan, dan alkoholisme. Hal seperti itu tentu sangat mengancam masa depan bangsa kita. Bila kita tidak berpegang dengan kokoh pada Alquran, perubahan nilai yang akan mengesahkan segala nilai baru yang masuk, tentu akan membawa akibat yang buruk. Oleh karena itu, kita harus mempelajari dan memahami Alquran, serta sejak dini mengajarkannya pada generasi baru.

Para orangtua dituntut untuk bekerja keras. Kemungkinan mereka akan sering berada di luar rumah dan terkadang jauh meninggalkan anak-anaknya. Melihat keadaan seperti itu, hendaknya mereka harus berusaha mencari waktu luang untuk keluarganya dan tidak melupakan pendidikan agama kepada putra-putrinya. Orangtua yang berhasil memenuhi segala keperluan material si anak, namun melupakan tugas mendasar mendidik anak-anaknya, terbukti banyak yang harus membayarnya dengan mahal. Sebab, anaknya sering menjadi anak yang gagal dalam aspek material dan spiritual.

Rumah ibadah kita sudah selayaknya disuburkan dengan pengajaran Alquran selain untuk ibadah shalat. Karena agama kita sangat mendorong pada kemajuan, nalar, dan pendidikan, maka selain sebagai tempat persemaian pemahaman Alquran, Masjid atau Mushola sebaiknya juga digunakan kegiatan pendidikan. Rumah ibadah hendaknya dibangun dengan bentuk yang indah, menarik, sejuk, dan nyaman. Sehingga, anak-anak muda menyukainya sebagai tempat belajar yang menyenangkan. Rumah ibadah yang tidak bersih, sesungguhnya bertentangan dengan kaidah dan tuntunan agama yang menyerukan pada kebersihan.

Umat Islam perlu mengingat, bahwa Timur Tengah Jahiliah yang tidak dikenal dalam peta sosial maupun peradaban besar umat manusia di mana pun, hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun, telah berhasil menciptakan peradaban baru yang gemilang. Peradaban baru dari agama Islam itu, kemudian menjadi inspirasi hidup berperikemanusiaan, berperikeadilan, egaliter, dan anti feodalisme. Dengan pedoman Alquran pula, umat manusia mula-mula belajar empirisme, melatih kebiasaan pembuktian, menjauhi syirik, dan membuat landasan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam ayat-ayat Alquran, manusia berkali-kali didorong untuk bepergian meninggalkan tempat kelahiran, termasuk juga perintah menunaikan haji bagi mereka yang mampu. Ajaran ini secara tidak langsung menciptakan lalu lintas perdagangan lokal, regional dan global, tourisme, dan berbagai ekspedisi ilmu pengetahuan. Berbagai contoh itu menunjukkan bahwa kitab suci tidak membuat umat menjadi statis. Justru, Alquran menjadikan manusia dinamis, suka mengembara, berekspedisi mencari ilmu, serta melakukan perdagangan demi menyejahterakan diri dan masyarakatnya.

Alquran bukan sekedar alat perlombaan, tetapi juga menjadi petunjuk kehidupan buat manusia. Umat manusia di masa depan harus semakin mampu mengamalkan ajaran kitab suci. Merupakan suatu perbuatan yang agak sia-sia, jika Alquran terus didengungkan di mana-mana, namun akhlak kita tidak semakin baik. Begitu juga, justru semakin memperbesar dosa, jika kita rajin melombakan tilawatil-quran, tetapi akhlak dan moral kita semakin melorot ke bawah.

Manusia sudah seharusnya menjadikan Allah Swt. sebagai maha pengawas atas segala aktivitas yang dilakukan. Dosa yang terjadi dalam bentuk sekecil dan sependek waktu apa pun, tidak akan terlewat dari pencatatan malaikat yang nantinya wajib dipertanggungjawabkan oleh yang melakukannya. Dengan penghayatan Kitab Suci secara mendalam, kita juga dapat menumbuhkan keadilan, persamaan, dan kejujuran untuk kemanusiaan secara terus-menerus. Nilai-nilai yang menjadi fungsi dan isi bacaan-bacaan Kitab Suci seperti itulah yang harus dikembangkan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Alquran tidak hanya berisi ajaran moral, peradaban dan kemajuan. Ajaran kerukunan, larangan merusak rumah ibadah, serta larangan memaksa agama adalah pelajaran yang juga tertera secara jelas dalam Alquran. Itu semua merupakan ajaran yang amat modern guna menyongsong globalisasi dan era Informasi sekarang ini. Sebab, kemajemukan adalah ciri umat manusia zaman modern dan menjadi ciri abad XXI ini. Masyarakat yang dikehendaki oleh Alquran adalah masyarakat majemuk, jadi bukan sekedar masyarakat monolitik (tunggal). Hal itu dengan tegas dinyatakan Alquran surat Yunus ayat 99, yang dengan jelas menyatakan bahwa “Allah Yang Maha Kuasa, apabila menghendaki, sangat mudah untuk menjadikan semua orang beriman kepada-Nya”.

Oleh karenanya, kita harus menyuburkan toleransi, sebab ia merupakan perintah agama yang menjadi bingkai teologis untuk menciptakan kerukunan. Kita harus menghormati sesama manusia yang merupakan ciptaan Yang Maha Kasih, meskipun mereka berbeda agama. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, bahwa semua makhluk diciptakan Allah untuk tidak menjadi sia-sia, meskipun hanya seekor ba’udlah atau binatang rametuk yang begitu kecil. Apalagi ciptaan yang berwujud umat manusia itu, seperti kata Alquran: wa laqad karramna bani Adam, artinya, sungguh telah Kami muliakan semua keturunan Adam (manusia). Alquran memang ajaran yang sangat modern, ia sesuai dengan perkembangan zaman yang menuntut adanya toleransi dan sikap saling menghormati.

Masa peperangan agama dan zaman kegelapan manusia yang sudah lewat, tentunya tidak boleh diulang lagi. Agama sungguh bertentangan dengan segala kekerasan, apalagi pada penganiyaan dan pembersihan suku. Umat manusia harus terus mencegah dan melawan munculnya kejahatan terorganisir, penganiayaan dan pengusiran yang sering terjadi di lingkungan masyarakat yang anti peradaban modern.

Dengan demikian, untuk menegakkan kembali agama dalam kehidupan sehari-hari diperlukan kesamaan langkah dari berbagai pihak. Sehingga tidak terjadi satu golongan mengajak kebaikan, sementara yang lain justru membuat kerusakan.

Oleh karena itu, menghadapi dunia modern dan kokohnya eksistensi umat Islam, kita harus menampilkan diri dan citra Islam yang sebenarnya. Bahwa Islam adalah agama damai, toleran, dan kasih sayang. Sehingga membawa kemajuan dan kemaslahatan bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi alam semesta. Marilah kita kuatkan diri kita dengan iman yang kokoh, ilmu yang mendalam dan ekonomi yang mapan. Semoga Allah membantu kita untuk tetap eksis di tengah peradaban modern ini. Amien. Wallahualambishawab.

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.